IAI Muhammadiyah Bima Melaksanakan Kegiatan Focus Group Discussion (FGD)

Institut Agama Islam (IAI) Muhammadiyah Bima bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kementerian Agama RI, menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) program pengabdian berbasis riset. Kegiatan yang bertema “Penguatan Nilai-nilai Multikultural bagi Ustadz dan Tuan Guru Pesantren untuk Mencegah Radikalisme Islam Berbasis Pesantren di Kota Bima” ini dilaksanakan pada tanggal 6 September 2018 di Guest House IAI Muhammadiyah Bima, Jl. Gajah Mada Kota Bima.

 

Dalam sambutannya, ketua tim program pengabdian berbasis riset Dr. Ruslan, M.Ag., M.Pd menyampaikan bahwa peserta kegiatan ini terdiri dari para ustadz dan tuan guru/pimpinan pondok pesantren aktif di kota Bima. Lebih lanjut beliau juga menyampaikan kepada peserta FGD agar tidak salah dalam memahami tentang istilah dalam tema ini. Beliau menyampaikan uraian singkat tentang istilah multikultural dalam tema ini bermakna saling menghargai dalam keanekaragaman pemahaman Islam dan tidak saling menyalahkan apalagi mengkafirkan sesama muslim.

Sementara Bapak Syafruddin, M. Pd. I selaku Rektor IAI Muhammadiyah Bima menyampaikan dalam sambutanya bahwa pentingnya bagi para akademisi untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka peningkatan mutu perguruan tinggi khususnya IAI Muhammadiyah Bima serta memberikan pemahaman kepada para ustad dan tuan guru di pondok pesantren di kota bima agar mampu memaknai tentang nilai-nilai multikultural dalam islam itu sendiri. Hal demikian dilakukan agar akademisi dengan para ustad memiliki satu pemahaman tentang Nilai-nilai multikultural dalam kehidupan masyarakat kita yang beragam. Dari sisi lain juga bahwa munculnya gerakan radikalisme yang mengatasnamakan islam menjadi pemicu munculnya sikap fanatisme pemahaman keagamaan pada kelompok tertentu. Oleh karena demikian Muhammadiyah sebagai ormas islam yang mengedepankan nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunah senantiasa menjaga nilai-nilai keragaman dalam hidup bermasyarakat dan senantiasa berupaya memberikan pemahaman islam sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunah.

Kegiatan tersebut menghadirkan TGH. Abdurrahim Haris, MA.  Ketua MUI kabupaten Bima menguraikan pandangan MUI tentang isu hubungan antara radikalisme Islam dengan pesantren di Bima. Menurutnya, bahwa radikalisme dalam hal apapun selalu dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya perbedaan sikap politik dengan pemerintah, masyarakat yang tidak puas terhadap suatu kebijakan tertentu, dan pemahaman tekstualis terhadap teks-teks agama. Adapun pemateri berikutnya adalah Dr. Salahuddin, M.Pd. Beliau membahas peran pesantren dalam kehidupan masyarakat majemuk. Menurutnya, dalam kehidupan masyarakat majemuk, pesantren harus memainkan perannya di tengah masyarakat sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan jihad, damai sekaligus agen pendidikan perdamaian. Sementara Dr. Abdul Malik, M.Ag. M.Pd. membahas tentang stigmatisasi radikalisme Islam di pesantren. Dalam sorotannya, walaupun ada radikalisme Islam pada pesantren-pesantren tertentu, namun radikalisme Islam sering distigmakan oleh orang-orang luar yang tidak senang dengan Islam dan pesantren.

Mengakhiri kegiatan tersebut, panitia meminta kepada peserta untuk menuliskan rencana program pengembangan di pesantren masing-masing sebagai tindak lanjut dari kegiatan ilmiah tersebut. “zn”